Jumat, 03 Februari 2012

KEMBALI MENGENAL BAND ROCK SENIOR

DI KUTIP DARI BEBERAPA SUMBER MEDIA

AKA

“Band rock Indonesia tidak akan sukses apabila tidak pernah menjajal kerasnya panggung rock kota Malang”; sebuah quote yang mungkin dapat dengan serta merta disanggah ketika sebagian orang mungkin akan berteriak Jakarta atau Bandung. Tetapi demikianlah sebuah penegasan dari seorang sesepuh yang mengawali segenap drama panggung rock Indonesia. Bermula dari sebuah racikan seorang apoteker jenius di bilangan Kali Asin Surabaya, pada pertengahan dekade 60an, ditambah racun racun Led Zeppelin, Deep Purple, Grand Funk Railroad & Jimmy Hendrix yang semerbak mewangi dalam neraka panggung rock kota Malang, lahirlah AKA Band yang dikemudian hari melejitkan seorang nama fenomenal, Ucok AKA.

Ketika peta musik Indonesia dekade 60an didominasi oleh balutan generasi bunga dari para poppies seperti Koes Bersaudara, maka tahun 67 adalah halaman awal dalam buku sejarah musik rock Indonesia. Karena untuk pertama kalinya berdiri sebuah band rock dengan performa yang garang dan skill berakselerasi maksimum bernama AKA band. AKA atau disebut juga Apotik Kali Asin ini digawangi oleh Arthur Kaunang [ayah artis Tessa Kaunang], Sonata Tandjung, Sjech Abidin, serta Andalas Datoe Oloan Harahap atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ucok AKA.

Seperti kita tahu, bahwa resesi ekonomi & konflik politik pada tahun itu membuat segala hal dalam kehidupan menjadi sangat sulit. Namun kecerdasan seorang apoteker pecinta musik rock bernama Ismail Harahap [ayah Ucok AKA] yang kemudian melahirkan dan melambungkan AKA Band. Sebuah anugerah yang sangat besar pada era itu ketika seorang ayah merestui anaknya sendiri untuk menjadi rock star. AKA band inilah yang di kemudian hari turut memicu berdirinya band band rock Indonesia yang lain seperti Giant Step [Bandung] dan juga Trencem [Solo] yang digawangi oleh Setiawan Djodi.

Tahun tahun awal eksistensi mereka adalah sebuah masa penggodokan yang membentuk karakter bermusik mereka. Panggung panggung neraka musik rock di Jawa Timur utamanya di Malang dan Surabaya pada era akhir 60an dan awal 70an menempa mereka untuk menjadi seorang rocker berkualitas yang benar benar berkarakter. Simak saja skill berakselerasi maksimum ala Led Zeppelin, Jimmy Hendrix ataupun Grand Funk Railroad, kemudian beat beat rocknroll liar sejenis Deep Purple yang banyak mempengaruhi lagu lagu AKA.

Ditambah lagi dengan aksi teatrikal sinting dari sang vokalis nyentrik yaitu Ucok AKA, seperti menyanyi sambil bergelantungan terbalik di ketinggian 10 meter, jumpalitan jungkir balik seperti seorang atlit senam, ataupun membawa bawa peti mati, dll. Konsep performance raw seperti ini memang telah direncanakan sebelumnya sebagai sebuah hiburan tersendiri bagi audiences yang datang dari berbagai pelosok daerah. Komposisi entertaintment panggung AKA sendiri kurang lebih 60% adalah musik sementara 40% adalah performance. Walaupun performance seperti ini seringkali dimaksudkan untuk menutupi ketakutan dan demam panggung Ucok AKA sendiri. Hahaha ... jika saja Ozzy Osbourne atau Iggy Pop dilahirkan lebih awal untuk dapat menikmati kegilaan Ucok AKA, mungkin akan terjadi kolaborasi unik antara mereka.

Kesemua ini kemudian membuat nama mereka menjadi hip dan sangat diperhitungkan di setiap panggung rock Indonesia pada dekade 70an. Hampir setiap lawatan konser mereka di berbagai kota besar Indonesia selalu memancing histeria massa. Bahkan keriuhan panggung ini pada suatu waktu berubah menjadi rusuh terutama ketika Ucok AKA mengcover lagu Sex Machine milik James Brown dalam versi yang lebih liar, performance sensual dan ugal ugalan. Karena modus modus operandi seperti inilah, AKA band membuat pejabat pejabat pemerintah dan tokoh tokoh agama di seluruh Indonesia terbakar jenggotnya serta bersepakat mencekal mereka dari setiap panggung rock Indonesia.

Atas dasar pencekalan dari para birokrat, maka AKA Band menempuh jalan yang lebih subversif dalam eksistensi mereka, underground !!!. Mereka kemudian hijrah ke negeri tetangga yaitu Singapore dan Malaysia. Disini mereka membuat album rekaman dan merilis lagu dalam bahasa Inggris yaitu Crazy Joe. Seperti kita ketahui, pada era itu, atas dasar nasionalisme, sistem birokrasi Indonesia menetapkan bahwa semua karya musik wajib berbahasa Indonesia, sehingga Crazy Joe menjadi sebuah lagu yang sangat subversif disini.

Namun gayung bersambut, Crazy Joe yang didedikasikan untuk seorang teman Ucok AKA yaitu pegawai Apotik Kali Asin bernama Joe yang turut membidani kelahiran AKA band, kemudian mendapatkan tempat terhormat dalam arena sadis industri musik bernama chart. Ketika itu radio Australia, dengan frontman Ebet Kadarusman [Kang Ebet] pada siarannya, menetapkan Crazy Joe pada anak tangga pertama chart. Kesuksesan ini diikuti dengan kesuksesan lain dimana single Badai Bulan Desember laku tercetak sebanyak 1 juta keping. Sebuah ukuran yang kemudian menetapkan Badai Bulan Desember sebagai salah satu lagu rock legendaris di Indonesia.

2 tahun di Singapore, mematangkan mereka. Lirik lirik lagu bertema alam, kekerasan, dan tidak jarang religi serta kehidupan sehari hari mendewasakan karya mereka. Sehingga ketika mereka mondar mandir di panggung lokal Singapore seperti West Point Garden dan Tropicana, pedagang sadis setempat bernama EMI Singapore tertarik untuk merekrut mereka. Jenuh dengan kecilnya negeri Singapore, mereka kembali ke Indonesia. Dan di negeri ini, bukannya mereka kapok terhadap black list, akan tetapi semakin menggila. Tata panggung yang sangat horor dan performa liar ugal ugalan, kemudian menetapkan mereka sebagai ikon rock Indonesia. Oleh karena itulah maka pada hampir setiap konser band rock internasional papan atas di Indonesia, AKA adalah sebuah kunci pembuka.

1974 adalah sebuah angka penting yang mengklimakskan perjalanan AKA band. AKA bubar jalan ketika mencapai puncak kejayaan, dan kemudian para personel AKA minus Ucok pada tahun 1975 membentuk grup rock yang juga legendaris yaitu SAS. Lalu sebenarnya apa yang membuat AKA band runtuh pada waktu itu ?

Perempuan adalah kata kuncinya. Ucok AKA yang telah beristri dan beranak ini, larut dalam buaian asmara yang memabukkan bersama seorang fans wanitanya. “saya jatuh cinta dengan seorang wanita dan kemudian lari bersamanya, sialnya dia anak pejabat”, demikian kata Ucok AKA yang kini akrab dipanggil Eyang Ucok. Ucok AKA memang jatuh cinta dan kawin lari bersama seorang perempuan cantik jago karate bernama Farida. Kenyataan inilah yang kemudian meruntuhkan kejayaan dinasti imperial AKA band.

Kisah hidup Ucok AKA dan Farida selanjutnya adalah sebuah drama romantis pasangan kekasih bohemian rocknroll yang jauh lebih klasik ketimbang Kurt Cobain dan Courtney Love. Melarikan diri ke belantara metropolitan Jakarta, hidup di lorong lorong gang sempit, tidur di kamar tumpangan yang sumpek bekas gudang stasiun Gambir, sampai menyewa sebuah kamar hotel kelas kambing di daerah Senen Jakarta.

Namun justru saat hidup bersama Farida inilah, nama Ucok AKA benar benar terasah menjadi seorang seniman kelas atas. Adalah seorang anak muda bernama Ali Shahab, seorang sutradara film yang di kemudian hari cukup disegani sebagai salah seorang maestro film Indonesia, yang menemukan Ucok bersama istrinya yang sedang hamil tua, duduk menggelandang di stasiun Gambir Jakarta. Perkenalan ini kemudian membuka jalan Ucok AKA dan istrinya kedalam dunia layar lebar. Dan Ratno Timoer yang kemudian menjadi dokter yang melahirkan film pertama yang dibintangi Ucok AKA pada tahun 1977 yaitu Ciuman Beracun. Semenjak itulah Ucok AKA rajin mondar mandir di layar lebar, kebanyakan film dengan judul judul butut, yaitu mulai dari film Manusia Purba, Darah Muda, Lonceng Maut, Gara Gara Gila Buntut, Tante Sun, Ratapan Anak Tiri II, dll.

Namun dari kesemua itu yang cukup penting dicatat adalah film Duo Kribo yang dirilis pada tahun 1978 bersama nama nama besar seperti Achmad Albar, Remy Silado, dll. Film ini cukup fenomenal selain karena mendapatkan penghargaan bergengsi di ajang film tanah air juga merupakan penanda berakhirnya secara resmi perseteruan dan persaingan antara dua orang rocker papan atas yaitu Ucok AKA dan Achmad Albar. Selain itu juga Duo Kribo kemudian menjadi nama band rock mereka dimana lagu lagu ciptaannya banyak menjadi hits di tangga lagu bergengsi radio radio kota besar Indonesia. Mungkin jika sempat terbersit di telinga anda tembang tembang kenangan dari sebuah siaran radio, lagu lagu rock legendaris seperti Neraka Jahanam ataupun Panggung Sandiwara [ciptaan Ian Antono], maka patut diingat pula bahwa Duo Kribo inilah yang pertama kalinya mempopulerkan.

Ucok AKA sendiri tidak malu untuk mengakui dirinya melacurkan diri sebagai seorang pekerja film komersial. “Waktu itu saya butuh 600 ribu buat hidup sama buat biaya tinggal, makanya saya main film”, demikianlah pengakuannya. Tetapi bukan berarti naluri rockernya tergadaikan begitu saja, tercatat salah satu film yaitu Darah Muda yang dibintangi bersama Rhoma Irama, merupakan salah satu monumen kekecewaannya akan apresiasi publik terhadap musik rock. “Saya selalu main jadi pemabuk, pembunuh, pemerkosa, gara gara saya main musik rock, sementara Rhoma dapat yang baik baik”.

Bayang bayang sex drugs & rocknroll yang menstereotipkan kegilaan Ucok AKA memang telah melekat kuat dalam benak masyarakat modern pengidap post flower syndrome. Walaupun untuk permasalahan drugs sendiri Ucok menyanggah dengan keras, ”setiap performance saya selalu gila gilaan, butuh tenaga tinggi buat lompat lompat, jungkir balik sana sini dan digantung gantung, kalo saya pake drugs, gimana saya bisa kayak gitu ...”. Sebuah pernyataan yang logis bukan ? Karena baginya kesuksesan dalam sebuah acara adalah nomor satu.

1982 kembali menjadi tahun yang mengejutkan bagi Ucok AKA. Ayahnya yang sakit memaksa dirinya pulang ke Lawang, distrik utara kota Malang. Rumah besar yang baru saja dimiliki di bilangan Sawangan, Jakarta Pusat ditinggalkan Ucok AKA dan Farida beserta kedua anak mereka begitu saja demi bakti kepada orang tua. Namun yang paling parah adalah ketika istrinya meninggalkannya. Rumah tangga Ucok AKA dan Farida yang memang tidak pernah direstui orang tua Farida berakhir ketika seorang pesuruh dari keluarga orang tua Farida datang ke Lawang menjemput pulang Farida dan kedua anaknya. Peristiwa ini selain mengakhiri kisah romantis dari pasangan kekasih bohemian rocknroll, juga disatu sisi mempengaruhi mental Ucok AKA dalam perjalanan kehidupannya kedepan.

Tahun tahun berikutnya mirip cerita infotaintment kekinian yang berisi dengan kisah kawin cerai. Tercatat beberapa wanita kemudian pernah mendampingi statistik hidup Ucok AKA, beberapa bahkan terpaut usia belasan tahun dengan Ucok AKA. Bahkan istri ketiganya, merupakan sebuah bukti trauma pasca perceraian Ucok AKA dari perkawinan sebelumnya, dimana istri ketiganya ini secara fisikal cukup mirip dengan Farida. Ucok AKA kemudian harus menyadari sebuah kebenaran ungkapan klise yaitu cinta tak harus memiliki. “Kalo boleh milih saya ingin sukses dalam keluarga dibanding dalam musik rock, cuma Tuhan punya rencana lain, saya terus terusan dibelokin, jadinya malahan sukses di musik bukan di keluarga”, sebuah pernyataan pahit nan manusiawi seorang Ucok AKA yang kemudian terbukti dalam berbagai hubungan rumah tangganya yang berantakan.

Ketika dekade 80an menjadi gemerlap bagi para generasi elektrik, tidak demikian halnya dengan Ucok AKA. Pamornya yang mulai meredup kian terasa pasca trauma 82. Tahun tahun berikutnya bagi Ucok AKA adalah sebuah kisah komedi gelap berdurasi panjang. Berbagai pekerjaan dilakoninya, agar asap dapur tetap mengepul. Bolak balik Malang – Jakarta pun dijalaninya, karena Jakarta baginya adalah kota industri yang selalu mengepulkan asap dapur rumahnya di Malang.

Bisa dilihat, mulai dari penata ilustrasi musik untuk berbagai film, menjadi pengurus PARFI, membuka usaha batako, menjadi kutu loncat untuk berbagai band rock dari Warrock Power Band, hingga Coksvanska [yang kesemuanya kurang sukses di pasaran], bahkan hingga menjadi paranormal. Hah ... Paranormal ??? Ya, seperti dikatakannya bahwa ketika teman temannya yaitu Arthur Kaunang telah bermain musik untuk Tuhan, Sonata Tandjung menjadi pendeta, dan Sjech Abidin menjadi ustadz, maka Ucok memilih menjadi paranormal. Baginya paranormal ataupun pendeta ataupun ustadz adalah sama saja, yaitu memiliki niat untuk menolong orang. Walaupun ia tidak memungkiri bahwa niatnya menjadi paranormal juga disebabkan karena ia tidak ingin bersekolah terlebih dahulu seperti ketika hendak menjadi ustadz ataupun pendeta.

Sampai disini bukan berarti idealismenya luntur karena profesi, karena ia tetap seorang kontroversial bagi publik. Simak saja opini opini pedasnya terhadap kultur industri musik yang selalu mengarahkan musisi untuk bermental kacang goreng. “Jaman sekarang industri selalu memaksa musisi untuk bikin lagu lagu gombal, semuanya tentang cinta, tidak ada yang lain” ujarnya ketus. Bahkan lebih jauh lagi kritiknya terhadap pragmatisme musisi muda juga tidak kalah pedasnya. “Anak muda kalau sudah berhasil di Jakarta, mereka suka lupa sama daerahnya, semua seperti kacang lupa kulitnya” demikian cetusnya. Walaupun ia tidak memungkiri juga bahwa ia sendiri menyukai untuk bekerja sama dengan musisi musisi yang lebih muda. Tercatat beberapa musisi muda seperti Andy /rif, Kaka Slank, pernah mengecap pengalaman berkolaborasi dalam satu panggung bersamanya.

Ucok AKA kini memang sudah tenggelam dalam pentas pentas besar industri musik tanah air. Namun bukan berarti sejarahnya terlupa begitu saja. Tercatat 17 album bersama AKA, 3 album bersama Duo Kribo, serta 10 album solo karir adalah ukuran panjang yang membuat prestasinya susah untuk disamai musisi era sekarang. Bahkan sumbangsihnya terhadap kultur lokal Malang juga cukup besar, ketika ia menciptakan Mars Arema untuk pertama kalinya.

Di usianya yang ke 69 tahun ini, ia memilih untuk hidup menyepi di Malang, dengan membuka klinik musik, cafe musik, dll untuk menyambung hidupnya. Ia sendiri memilih untuk tidak terlalu terlibat dalam industri musik lokal Malang era kekinian. Kemalasannya untuk mengatur kebengalan musisi musisi muda setempat adalah sebabnya, walaupun ia sendiri mengakui bakat dan potensi besar dari para musisi setempat. Namun baginya selain bakat, juga harus ditunjang dengan kemauan, disiplin, serta modal dan kesempatan, untuk menjadikan seorang musisi berkualitas dan mempunyai karya besar. Hal hal inilah yang seringkali dilupakan oleh musisi muda era sekarang, terlebih di jaman dimana teknologi telah sangat menguasai.

Berkunjung ke rumah Ucok AKA yang berada di sebuah lembah, di Lawang, distrik utara kota Malang ini, serasa sebuah perjalanan ke masa lalu. Rumah yang berada dalam tanah yang luas ini selain menjadi klinik musik dan cafe juga diabadikan sebagai sebuah museum pribadi yang menyimpan artefak artefak perjalanan musik rock Indonesia beberapa dekade silam. Ketidakmampuan dirinya untuk berpisah dari dunia musik rock teraplikasikan dalam berbagai hal di sekitarnya.

Penataan rumah dengan gaya hippies, bongkar pasang mobil holden tahun 60an miliknya hingga lebih menyerupai tank perang Gotham city milik Batman, sampai penamaan berbagai tempat di rumahnya dengan aroma generasi bunga seperti ruang lesehan Jimi Hendrix, adalah buktinya. Bahkan tidak jarang berbagai objek remeh temeh seperti kotak pos, papan penanda jalan masuk rumah, hingga bandul kalung, dll, turut menjadi objek romantisme Ucok AKA terhadap era kejayaan AKA band puluhan tahun silam. Eyang Ucok AKA ini sekalipun telah uzur dan menjadi kakek kakek namun tetap bermusik dan berjiwa rocknroll, sebuah ciri khas generasi lama di kota dingin Malang. Motto HIGAM, Hidup Gembira Awet Muda tetap menjadi semboyan hidupnya di usia tua ini.


GOD BLESS

Sejarah God Bless tidak terlepas dari perjalanan karir Achmad Albar, vokalis sekaligus pentolannya.  Iyek, begitu ia sering disapa,  setelah melanglang buana di Belanda dan kembali ke Indonesia, ia pun berangan-angan membentuk sebuah band. Bersama Ludwig Le mans, gitaris Clover Leaf, band Iyek ketika masih di Belanda, Iyek lalu mengajak Fuad Hassan (Drum), Donny Fattah (Bass) dan Deddy Dores (Kibord) untuk membentuk sebuah band. Tahun 1972, formasi ini mengikuti pentas musik “Summer’28” semacam pentas “Woodstock” ala Indonesia di Ragunan, Jakarta, yang di ikuti berbagai grup dari Indonesia, Malaysia dan Filipina.
Tapi tak lama setelah itu, Deddy Dores keluar dan di gantikan Jockie Soerjoprajogo. Formasi ini pun mulai getol berlatih di kawasan puncak, Jawa Barat dan mematok nama God Bless sebagai nama grup mereka. Tanggal 5-6 Mei 1973, untuk pertama kalinya God Bless tampil di depan publik, di Taman Ismail Marzuli (TIM) Jakarta.
Tahun 1975, formasi God Bless yang paling solid yakni Achmad Albar (Iyek), Donny Fattah (Bass), Jockie Soerjoprajogo (Kibord), Teddy Sudjaja (masuk menggantikan Keenan Nasution yang sebelumnya juga menggantikan Fuad Hassan yang meninggal dunia akibat kecelakan) dan di tambah sang gitaris handal Ian antono. Meraka merampungkan Album perdana Huma diatas Bukit yang merupakan soundtrek film yang di sutradarai oleh Suman Djaya.
Tahun 1970-an, boleh dibilang adalah masa kejayaan God Bless di panggung. Diantara beberapa band Rock yang timbuh saat itu, sebut saja macam Giant Step, The Rollies dan AKA, God Bless hampir tak tertandingi. Kendati kerap mengusung reportoar asing milik Deep Purple, ELP, hingga Genesis, namun aksi panggung serta skill masing-masing porsonelnya boleh dibilang di atas rata-rata. Di tambah lagi God Bless pernah mendapat kehormatan untuk mendampingi konser Suzi Quarto dan Deep Purple di Jakarta.
Namun keseringan menyayikan lagu asing, macam milik King Ping Meh, Queen, Edgar & Jhonny Winters, Deep Purple dan Genesis membuat gaya musik para personel God Bless sedikit banyak terpengaruh. Hal tersebut tergambar jelas dalam pengarapan album perdana mereka, Huma Diatas Bukit yang cukup banyak terpengaruh sound Genesis.
Menjelang pembuatan album kedua Jockie Soerjoprajogo keluar dari formasi dam memilih mengerjakan proyek album solonya serta menggarap proyek Badai Pasti Berlalu, album yang melejitkan penyanyi Chrisye. Posisi Jockie Soerjoprajogo kemudian di ambil alih oleh Abadi Soesman yang bergabung tahun 1979 dan ikut terlibat di pembuatan album kedua cermin (1980).
Di album ini konsep musik God Bless sedikit berubah. Sentuhan permainan kibord Abadi Soesman yang banyak di pengaruhi unsure musik jazz dan The Beatles menjadikan ramuan aransemen lagu=;agunya terkesan lebih rumit dan membutukan skill tinggi dalam memainkannya. Tapi menurut Abadi, album yang sebagian besar materinya di rekam secara live tersebut tidak terlalu memuaskan mereka. Karena sebelum rekaman, kami sudah memainkan lagu-lagu itu selama setahun penuh, katanya suatu ketika.
Dua tahun setelah album cermin dirilis, Abadi Soesman mengundurkan diri. God Bless sendiri vakum beberapa tahun. Di tengah kevakuman God Bless, Achmad Albar banyak mengeluarkan album solo dan bekerja sama dengan beberapa musisi, sebut saja Areng Widodo, Ucok AKA Harahap, dan pernah membuat Album Dangdut (Zakia dan Laguku)
Tahun 1988, God Bless menggebrak dengan lagi lewat album Semut Hitam, yang kembali menghadirkan permainan kibord Jockie Soerjoprajogo. Di album ini lagi-lagi konsep musik God Bless berubah. Dari tadinya lebih bernuansa rock progresif secara drastic berubah menjadi sedikit lebih keras karena pengaruh musik hard rock dan heavy metal yang mengikuti zamannya waktu itu.
Secara komersil, boleh dibilang album semut hitam yang antara lain melejitkan lagu kehidupan, semut hitam dan rumah kita ini cukup sukses. Sayangnya, keberuntungan tersebut tidak di barengi oleh keharmonisan hubungan di antara personelnya serta pihak manajemen.
Buntutnya, Ian Antono menyatakan hengkang dari grup yang membesarkan namanya ini. Posisinya kemudian di gantikan oleh gitaris muda berbakat dari Borneo, Eet Sjachranie yang sebelumnya sempat memperkuat bandnya Fariz RM dan grup Cynomadeus.
Ian Antono sendiri, setelah keluar dari God Bless terhitung sukses merintis karir solo sebagai pencipta lagu, arranjer dan produser. Ia berhasil melambungkan nama Ikang Fauzi, Nicky Astria dan menyegarkan karir Iwan Fals kembali lewat album Buku ini aku pinjam dan Mata Dewa.
Setelah Album Semut Hitam (1988), tidak berlama-lama lagi di tahun 1989 God Bless langsung merilis album Raksasa. Untuk kesekian kalinya konsep musik God Bless goyah lagi. Di Album Raksasa, permainan gitar Eet Sjachranie yang sangat modern sangat mempengaruhi pada perubahan musik God Bless. Selain lebih keras juga terkesan lebih bright dan serat akan sound rock yang trend di akhir tahun 1980-an. Di album ini melejit lagu Maret 89, Menjilat matahari, Raksasa yang sangt kental dengan permainan gitar Eet Sjachranie yang banyak terpengaruh musik Van Helen dan juga ACDC.
Ditahun 1991 God Bless merilis Album Story Of God Bless yang merupakan lagu-lagu lawas mereka yang di rilis ulang sebut saja lagu Huma diatas Bukit, Sesat, Musisi, Setan Tertawa, She Passad Away adalah lagu-lagu yang di arensmen ulang dan sangat lebih segar, modern.
Setelah album ini grup band yang menjadi tonggak musik rock di Indonesia ini vakum dan masing-masing poersonil nya sibuk dengan proyeknya sendiri-sendiri. Sebut saja Eet Sjachranie dengan Edane nya. Jockie Soerjoprajogo dengan Kantata Takwa, Swami dan juga Suket serta melambungkan nama Mel Shandy dan Ita purnama Sari. Donny Fattah dengan Kantata Takwa juga dan melambungkan grup pendatang baru Power Metal. Teddy Sudjaja yang memproduseri dan menciptakan lagu-lagu Aggun C Sasmi.
Achmad Albar sendiri dengan solo nya yang cukup sukses.
Selain itu juga diawal tahun 1990-an banyak bermunculan Band-band muda berbakat sebut Slank, Power Metal, Grass Rock, Elpamas dan Kaisar. Dan ironis nya di awal tahun 1990-an itu juga muncul grup band yang merupakan duplikat dari God Bless sendiri yakni Gong 2000 di mana tiga porsonelnya Achmad Albar, Ian Antono dan Donny Fattah serta di tambah Harry Anggoman (Kibord) dan Yaya Muktio(Drum) melejit dengan lagu-lagu Rock yang bernuasa pentatonic Bali, dan ada beberapa lagu lawas God Bless yang masuk di Album Gong 2000 ini.
Selang beberapa tahun vakum yang cukup panjang, di tahun 1997, para porsonel God Bless, termasuk Eet dan Ian Antono kembali berkumpul. Workshop yang mereka gelar di kawasan puncak, Bogor menghasilkan album berjudul Apa Khabar, yang merupakan album kerinduan mereka untuk kembali berkibrah di panggung musik.
Kisah selanjutnya setelah penggarapan album Apa Khabar, Eet Sjachranie resmi mengundurkan diri dari formasi God Bless dan konsentrasi untuk bandnya sendiri EDANE, yang sejak tahun 1992 sudah merilis album perdananya, The Beast.
Menjelang penggarapan album-album terbaru God Bless giliran Jockie Soerjoprajogo dan Teddy Sudjaja yang mengundurkan diri. Penggaran album pun menjadi terlambat, sepanjang tahun 2000 hingga 2005 God Bless belum juga merilis album lagi. Sepanjang tahun 2000 hingga 2006 ini banyak nama-nama yang sempat mengisi kekosongan di tubuh God Bless di antaranya, Kembalinya Abadi Soesman, Inang Noorsaid, Iwang Noorsaid, Harri Anggoman, Yaya Muktio dan Gilang Ramadhan.
Entah sekarang bagaimana khabar grup yang menjadi leganda musik rock Indonesia ini. Terakhir mereka masih manggung di acara Amild Live Soundernaline dan acara tahun baruan di Ancol dengan formasi Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah dan Gilang Ramadhan. Salut buat God Bless di usia yang tidak muda lagi mereka masih garang di atas panggung.

Album God Bless :
1. Huma diatas Bukit (1977)
2. Cermin (1980)
3. Semut Hitam (1988)
4. Raksasa (1989)
5. Story of God Bless (1991)
6. Apa Khabar (1997)


ELPAMAS

Nama Elpamas tadinya merupakan kependekan dari “Elektronik Payung Mas”, nama sebuah toko elektronik milik Anthony Depamas yang menyuplai peralatan band buat para personel Elpamas. Belakangan, kepanjangan nama Elpamas diplesetkan ke dalam bahasa Jawa, yaitu Elek-elek Pandaan Mas. Karena band ini memang berasal dari daerah Pandaan, Pasuruan (Jawa Timur).

Awal terbentuk, sekitar tahun 1983, Elpamas tidak langsung memainkan musik rock. Lewat panggung-panggung tingkat RT dan ‘bergerilya’ dari kampung ke kampung, Elpamas dikenal luas sebagai band yang mengusung musik dangdut.

Tapi kemudian, Elpamas tidak terlalu lama mengusung jenis musik ini. Tahun berikutnya, menjelang mengikuti festival rock yang digelar oleh Log Zhelebour mereka pun ganti haluan.

Elpamas mulai memperlihatkan talentanya sebagai grup rock yang layak diperhitungkan saat mereka berhasil merebut gelar Juara III di “Festival Rock Se-Indonesia” tahun 1984. Bahkan saat event tersebut digelar lagi pada tahun 1985 dan 1986, Elpamas yang waktu itu diperkuat oleh Dollah Gowi (vokal), Toto Tewel (gitar), Didiek Sucahyo (bas), Edi Daromi (kibor) dan Rastato mampu meraih predikat Juara I selama dua kali berturut-turut. Sementara Toto Tewel, juga mampu mengantongi gelar sebagai gitaris terbaik.

Karir Elpamas kemudian semakin terasah dengan seringnya mereka tampil di pentas-pentas musik besar, antara lain mendampingi God Bless pada “Tour Raksasa Gudang Garam”, tahun 1989.

Di dunia rekaman, nama Elpamas juga mampu mencatat prestasi yang cukup lumayan. Salah satu lagunya, yaitu Pak Tua menjadi tembang klasik mereka yang mungkin paling dikenal masyarakat. Tembang karya Pitat Haeng (nama samaran yang digunakan Iwan Fals) yang termuat di album Tato tersebut konon mampu mendongkrak penjualan albumnya hingga mencapai angka 5 keping. Sebuah jumlah yang menyedihkan pada masa itu. Itupun dibeli oleh orang tuanya masing-masing.

Lagu itu sendiri — yang bercerita tentang seorang penguasa yang sudah tua tapi belum mau pensiun — sempat dicekal, tidak boleh ditayangkan di TV. Pasalnya, liriknya dianggap telah menyinggung penguasa orde baru.

Gonta Ganti Vokalis
Elpamas sering sekali terjadi pergantian formasi sehingga mempengaruhi kestabilan grup. Sehingga baru enam album yang dihasilkan dalam waktu 15 tahun

Misalnya posisi vokalis. Elpamas sudah sembilan kali ganti vokalis. Di antaranya, ada nama Dollah Gowi, Baruna (sempat membentuk kelompok Legend Bee dan kini mengibarkan grup Jagad) dan Ecky Lamoh (ex-vokalis EdanE). Bahkan, Andy Liany sempat pula bergabung, meski tidak sempat masuk rekaman. Sementara itu, Doddy Keswara masuk formasi setelah disodorkan oleh Baruna.

Selain karena mereka memang kurang produktif mengeluarkan album rekaman, waktu Elpamas juga lebih banyak tersita untuk tampil di kafe-kafe. Belum lagi beberapa personelnya banyak terlibat proyek lain. Toto Tewel misalnya. Bersama Doddy Keswara, ia turut memperkuat grup Kantata, pimpinan Setiawan Djody dan sesekali mengisi gitar untuk beberapa penyanyi solo.

Dengan banyak bermunculan grup musik baru, justru memacu mereka untuk tetap berupaya mempertahankan eksistensi Elpamas. Salah satu jalan yang ditempuh ialah dengan menciptakan pasar musik di panggung. Mereka memilih memperbanyak bermain di kafe-kafe membawakan lagu dari grup legendaris tahun 70-an seperti Deep Purple, Led Zeppelin, Uriah Heep, Yes dan Kansas.

Setelah merilis Dongeng, Didik Sucahyo cabut dari Elpamas. Posisinya sempat digantikan oleh Edot, mantan basis Q-Red (grup Toto sebelum bergabung di Elpamas). Kini, posisi ini kemudian diisi oleh Harto. Sementara di jajaran vokal, Amiruz dan Ecky masuk menggantikan Doddy Keswara yang mengundurkan diri setelah pembuatan album Dongeng.

Amir Roez sendiri bukanlah nama baru di dunia musik Indonesia. Sebelum bergabung di Elpamas, vokalis asal Solo ini pernah tercatat sebagai vokalis grup Dimensi, band yang antara lain diperkuat oleh Yuke Sumeru dan Donny Suhendra.

Ia juga pernah ‘ngamen’ bersama Anto Hoed (basis Potret), Kadek Rahardika dan Lian Panggabean mengibarkan 2GT2. Bahkan, sebuah album solo berjudul Goyang Dunia pernah pula ia lahirkan. Di Elpamas, Amir mengaku sudah tidak asing dengan personelnya, terutama Toto Tewel. Ia sudah kenal Toto sejak keduanya terlibat penggarapan lagu soundtrack untuk film “Macan Kampus”.

April 2003, Elpamas merilis album 60km/jam dengan personel Toto Tewel, Tato, Edi Daromi, Harto, Amiroez dan vokalis Decky Sompotan.

Diskografi
* 1989 - Dinding-dinding Kota
* 1991 - Tato
* 1993 - Bos
* 1997 - Negeriku
* 2000 - Dongeng
* 2003 - 60km/jam


KAISAR

Kota Solo, Jawa Tengah di tahun 1990an ternyata menyimpan kenangan bagi pecinta Musik Rock tanah air. Di tahun 1990an ada sebuah band Rock yang sempa mewarnai blantika musik rock tanah air kala itu. Band tersebut bernama Kaisar. Band ini sendiri digawangi oleh Banasi (Vokal), Yudhi Koesasih (keyboardis), Didiek Ermas (bass) dan Burhan (drum). Mereka adalah mahasiswa UMS dan UNS. Grup Band ini populer di tahun 1990an, diawali dengan menjadi pemenang Rock Festival 1990 di Surabaya. Salah satu lagu yang menjadi andalan grup band ini adalah Kerangka Langit. Kepopuleran Kerangka Langit masih terasa saat ini, hampir dalam setiap Festival Rock , Lagu cadas dari Kaisar ini selalu menjadi lagu wajib bagi peserta festival. Selain itu lagu Garis Bintang juga tidak kalah populer di tahun 1990an.

Karena kesibukan masing-masing personil, Kaisar Band sempat mengalami vakum selama 14 tahun, sehingga menyebabkan hampir tidak ada album sama sekali pada periode tersebut. Namun Kembalinya Legenda Rock Band Solo ini tinggal menunggu waktu. Karena dalam waktu dekat ini akan dirilis album ke-empat Kaisar Band.


GRASS ROCK

Grass Rock merupakan salah satu band lulusan festival rock yang diselenggarakan oleh Log Zhelebour. Band ini terbentuk pun karena terdorong untuk mengikuti Djarum Super Rock Festival itu.

Pada tahun 1984 itu formasi pertama Grass Rock adalah Hari (vokal), Mando (kibor), Harto (gitar), Yudi (bas), dan Rere (dram). Mereka kemudian mengikuti festival itu tapi gagal menjadi juara.

Tahun 1985 Grass Rock kembali mengikuti Djarum Super Rock Festival, kali ini mereka beruntung memperoleh juara III dan Rere memperoleh gelar The Best Drumer. ‘’Wah makin semangat saja kita ngerocknya,’’ tuturnya. Lalu Grass Rock pun memperoleh kesempatan untuk selalu mengikuti show yang diselenggarakan oleh Log Zhelebour.

Sebagai sebuah grup Grass Rock paling kerap mengganti vokalis, di antaranya adalah Karnoto, Arief, Zulkarnain, dan vokalis terakhir Dayan (adik Rere) yang sempat duet dengan Zulkarnain.

Ketika Zulkarnain masuk di tahun 1986 Grass Rock kembali mengikuti Djarum Super Rock Festival, dan berhasil jadi Juara I. Rere pun kembali menyabet gelar The Best Drumer. Mereka lantas memperoleh kesempatan dari Log Zhelebour untuk mengikuti tur 10 kota untuk mengiringi God Bless.

Tahun 1987 mereka ikut festival lagi dan kembali memperoleh Juara I dan The Best Drumer, ditambah Mando memperoleh gelar The Best Keyboard. ‘’Setelah itu kita dapat juara terus kalau ikut festival, wah pokoknya kita lagi di atas angin deh saat itu,’’ papar Rere penuh semangat.

Setelah itu tawaran show pun makin berdatangan dan mereka tidak lagi mengikuti festival-festival. Kerjasama dengan Log pun berakhir di tahun 1988. Karena merasa jam terbang sudah banyak mereka pun terpikir untuk membuat album. Lalu mulailah mereka membuat komposisi sendiri.

Grass Rock telah merilis empat album Anak Rembulan (1990), Bulan Sabit (1992), Grass Rock (1994), Menembus Zaman (1998), dan satu single Rock Kemanusiaan “Prasangka”. Setelah ditinggal Dayan yang meninggal 1999, Grass Rock tinggal Mando (kibor), Edi Kemput (gitar), Yudi (bas), dan Rere (dram).


RAJAWALI

Setelah cukup lama stagnasi regenerasi band mengusung nafas musik rock Indonesia era 80’an penghujung hingga awal 90’an akhirnya muncul sebuah band dengan konsep rock bercirikan sama. Rajawali yang lepas dari sangkarnya dikemudikan 5 orang anak muda ; Pheyi (vocal), Aek (Drums), Kiki Unyil (Gitar), Ewong (Bass) dan Juli (keyboard). Pentolan band ini adalah Kiki Unyil yang punya skill permainan gitar terbilang berkualitas. Dia cenderung memiliki gaya permainan gitar ala neoclassical metal. Ada hal yang patut disimak pada salah satu lagu di album Rajawali yang berjudul Danza Brasil, satu-satunya lagu yang tak tersentuh nuansa metal ini beraroma klasik dengan petikan gitar nylon dari Kiki Unyil. Namun sayang kepakan sayap Rajawali tak berlangsung lama, band ini tak mampu bersaing dengan band-band baru yang lebih menyuguhkan musik beraliran alternatif rock. Di kemudian hari sang leader Rajawali Kiki Unyil lebih fokus dengan proyek solo album gitarnya dan pernah mengisi album kompilasi Gitar Klinik 1 bersama gitaris papan atas Indonesia lainnya



POWER METAL

Menilik sejarah terbentuknya Power Metal, pada tahun 80-an, dimana pada saat itu adalah masa-masa keemasan grup music beraliran rock-metal, tercatat, beberapa grup band baik manca maupun di tanah air mencapai puncak popularitas seperti Hellowen, Metallica, Godbless, dsb. Pada awal berdirinya, Power Metal masih bernama “Power”, kemudian berganti nama menjadi “Power Metal” pada tahun 1987. Formasinya saat itu adalah Pungky Deaz (vokal), Ipunk (gitar), Hendrix Sanada (bas), Raymond Ariasz (kibor), dan Mugix Adam (drum).

Bagi pecinta music Rock tanah air, pastilah tidak asing dengan grup band Power Metal, salah satu Band yang melegenda dalam perjalanan perkembangan music rock di Indonesia. Selama Kurang lebih 22 tahun adalah waktu yang cukup lama dari awal berdirinya band tersebut, yakni pada bulan September 1987.

Banyak album telah dihasilkan, beberapa bahkan bisa dikatakan fenomenal dengan angka penjualan yang fantastis. Yang menjadi ciri khas dari grup ini adalah, alunan suara vocal arul efansyah yang tinggi dan melengking , mampu melewati beberapa oktaf . Harmonisasi Keyboard dan suara Gitar dengan distorsi berat, khas musik metal, selalu menjadi warna dan mendominasi pada sebagian besar lagu-lagu mereka. Ditambah pula dengan tempo cepat dan dobel pedal pukulan Drum semakin menambah kesan “Metal” pada musik mereka. Selain itu, yang patut diacungi jempol adalah lirik-lirik dari kebanyakan lagu mereka yang memiliki pesan moral positif dan selalu menyuarakan isu-isu sosial, politik.

Dalam perjalanannya, band ini telah beberapa kali bongkar pasang personil, pasang surut penjualan album adalah hal biasa, mereka tetap eksis dan idealis dengan music metal, buktinya, tahun 2002 dan 2004, mereka mengeluarkan 2 album dengan warna music yang tidak banyak berubah, akan tetapi, dengan mengandalkan ciri khas tersebut, Power Metal tetap bisa eksis, bahkan, komunitas penggemarnya makin banyak muncul ke permukaan sampai saat ini. Di tengah popularitas jenis music pop melayu ala wali, kangen band, dan kemunculan banyak band-band baru beraliran sama, Power Metal bisa menjadi pelepas dahaga bagi penggemar music rock metal di tanah air. Apalagi dalam waktu dekat, Album “Power Metal IX” segera diluncurkan.

Power Metal
Tahun Aktif : 1987 – Sekarang
Label Perusahaan Rekaman : Logiss Record

Anggota PersoniL :
Arul Erfansyah (Vokal)
Ipunk (Gitar)
Lucky S.W (Gitar)
Sastro Adi (Keyboard)
Babah (Bass)
Eko Dinaya (Drum)

Mantan Personil :
Totty M (Vokal 1986 – 1988)
Raymond (Keyboard 1986 – 1996)
Pras Hadi (Bass 1986 – 1991)
Mugix (Drum 1986 – 1996)
Pungky Deas (Vokal 1988 – 1989)
Hendrix Sanada ( Bass 1987 – 1989)
F Rossi ( Bass 1996 – 2000)
James Fistgerald ( Keyboard 1996 – 2000)
Endro ( Bass 2000 – 2005)


ROXX

Roxx adalah grup musik beraliran rock yang digawangi oleh Trison (lead vokal), Jaya (gitar), Toni (bas/backing vokal), Didie (bas/gitar), dan additional player Crow (gitar) dan Al (drum). Sempat vakum bertahun-tahun sejak Trison hengkang ke EdanE, tahun 2004 mereka kembali lagi dengan album Bergema Lagi.Roxx mulai terkenal setelah berhasil masuk 10 besar Festival Rock se-Indonesia yang diselenggarakan Log Zhelebour pada 1980-an. Lagu hits mereka berjudul "Rock Bergema" sempat pula digunakan sebagai tema program musik beberapa stasiun radio.Setelah merilis album Roxx (Album Hitam) dan Nol, Trison hijrah ke EdanE. Namun setelah ditendang EdanE di tahun 2003, Trison kembali lagi dan mereka pun merilis album Bergema Lagi di tahun 2004.

ini salah satu album roxx yg self titled
isinya:
1. Gontai
2. Penguasa
3. Gelap
4. 5 cm
5. Yang Tersisih
6. Society Way
7. Price
8. Ada Tiada
9. Superstar
10. Rock Bergema


EDANE

EdanE adalah potret sebuah grup yang memiliki kematangan bermusik dalam penggarapan album maupun ketika pentas di atas panggung. Pusat pesona grup terutama terletak pada Zahedi Riza Sjahranie alias Eet Sjahranie. Permainan gitar Eet amat atraktif, memukau, dan edan. Beng Beng, gitaris Pas bilang, jika kita ingin menyebut siapa sebenarnya gitaris rock Indonesia, Eet itulah orangnya. EdanE semula dikenal sebagai singkatan dari Eet dan Ecky Lamoh. Terbentuk tahun 1991, Edane terdiri atas Eet Sjahranie (gitar), Ecky Lamoh (vokal), Iwan Xaverius (bas), dan Fajar Satritama (drums).

Setelah ikut mewarnai musik EdanE dalam album pertama The Beast (1992), Ecky cabut. EdanE tak berganti nama. Hari Batara atau lebih dikenal sebagai Ucok, masuk. Tapi kemudian giliran Ucok yang cabut. Posisinya diambil alih oleh Trison, mantan vokalis Roxx. Trison dipilih lewat seleksi ketat yang dilakukan selama dua tahap.

Namun pada pertengahan tahun 2003 lagi-lagi terjadi pergantian vokalis, pada tangal 9 juli 2003 tepatnya Trison mengundurkan diri dari EdanE, banyak cerita simpang siur terhadap pengunduran Trison tapi yang pasti setelah Trison mengundurkan diri akhirnya EdanE mendapatkan ganti vokalis baru ex Razzle Band yaitu Robby yang biasa membawakan lagu-lagu Guns n Roses. Hadirnya penyanyi dengan karakter seperti itu bisa di tebak EdanE akan kembali mengusung musik beraliran hard rock atau yang sejenisnya mereka kelihatannya kembali ingin menonjolkan kemampuan individual masing-masing personilnya di album yang akan datang. Menurut Eet, pergantian vokalis ini terjadi karena di antara personel mulai disadari adanya ketidakseimbangan dalam hal memenuhi tuntutan musik EdanE. "Sebenarnya itu sudah disadari sejak pembuatan album Borneo. Kita sudah memikirkan untuk membuat musik yang lebih luas dari sebelumnya. Konsekuensi dari itu, kita tentunya membutuhkan personel yang bisa memenuhi kapasitas itu," ungkap Eet.

Kendati demikian, lanjut Eet, hubungan antara personel EdanE dengan Ucok tetap baik. Karena Ucok sendiri yang berinisiatif untuk mengundurkan diri. "Malah Ucok juga setuju dengan audisi untuk vokalis baru."

Telah enam album mereka keluarkan The Beast (1992), Jabrik (1994), Borneo (1996), 9299 (1999), 170 Volts (2002), dan Time To Rock (2005). Album 9299 (Aquarius) merupakan kompilasi lagu baru dan lagu lama. Tiga lagu baru adalah Untuk Dunia yang menjadi lagu jago, Dengarkan Aku, dan Rock On. Lagu lama yang masuk antara lain Jabrik, Ikuti dan Borneo yang kaya unsur etnik Dayak. "Lagu-lagu tersebut kami anggap bisa mewakili EdanE," ucap Eet.

Proses penciptaan musik EdanE, tutur Eet dan Fajar, lebih banyak bertolak dari rif-rif yang dimainkan di studio. "Rif-rif itu kemudian berkembang menjadi komposisi dan akhirnya lagu," kata Fajar. Ini sebabnya penggarapan album EdanE selalu lama. Untuk satu album mereka bisa menghabiskan lebih dari seratus shift, jumlah yang cukup banyak (bisa untuk membuat tiga album) bagi grup lain. Namun, menurut Rudra, sound engineer album EdanE, dengan proses semacam itulah musik EdanE sangat kaya akan warna dan detail.

EdanE memainkan musik hard rock. Tapi Eet lebih suka menyebutnya rock saja. Eet juga kerap diidentikkan dengan Eddie Van Halen, gitaris yang mempengaruhinya. Dari sini muncul plesetan EdanE sebenarnya adalah singkatan dari Eet dan Eddie Van Halen. Pengidentikan itu, kata Eet, "membuat saya tersanjung dan kesal. Tersanjung karena Van Halen adalah nama besar. Kesal karena saya ingin menjadi diri saya sendiri, bukan orang lain."

Sejak dirintis tahun 1991, manajemen EdanE sudah berpindah dari tangan ke tangan. Pertama ditangani Ali Akbar, kemudian pindah ke Jimmy Doto, lalu ke Aci, dan pernah ditangani sendiri. Kini manajemen Edane dipegang oleh Heri 'UCOK' Batara dengan Rock On Management nya.

Group EDANE yang dimotori oleh gitaris EET SJAHRANIE menyatakan melepaskan diri dari kontraknya dengan Sony BMG dan menyatakan siap bergabung dengan LOG Management yang dipimpin oleh Log Zhelebour.Hal ini diutarakan EET dan Heri Batara selaku manager EDANE ketika minggu yang lalu menghadap Log untuk mengutarakan keinginannya bergabung dengan Log Music untuk rekaman albumnya dan sekaligus minta Log untuk mengelola management Edane. Log sudah mengenal Eet sejak tahun 1989 pada saat ikut bergabung dengan GOD BLESS dan menelurkan album raksasa ( 1989 ) dan Apa Kabar ( 1997 ). tour raksasa God Bless yang diadakan oleh Log pada tahun 1989 - 1990 dengan sponsor Gudang Garam merupakan konser musik rock terbesar sepanjang sejarah pertunjukan musik di Indonesia yang sulit ditandingi hingga saat ini. semoga EDANE bisa kembali bersinar setelah gabung dengan Log.

Personil EdanE

Personil Edane berganti-ganti dalam berbagai kurun waktu. Berikut adalah konfigurasi grup yang pernah terjadi:

EdanE I :
Eet Sjahranie : gitar
Ecky Lamoh : vokal
Iwan Xaverius : bas
Fajar Satritama : drum

EdanE II :
Eet Sjahranie : gitar
Heri Batara : vokal
Iwan Xaverius : bas
Fajar Satritama : drum

EdanE III :
Eet Sjahranie : gitar
Trison Manurung:vokal
Iwan Xaverius : bas
Fajar Satritama : drum

EdanE IV :
Eet Sjahranie : gitar
Robby Matulandi :vokal
Iwan Xaverius : bas
Fajar Satritama : drum

Iwan dan Robby akhirnya mengundurkan diri.

Diskografi EdanE
Album

* 1992 : The Beast produser AIRO Records & EdanE, label AIRO
* 1994 : Jabrik produser EdanE, label Aquarius Musikindo
* 1996 : Borneo produser EdanE, label Aquarius Musikindo
* 1999 : '9299 (the best album) produser EdanE, label Aquarius Musikindo
* 2002 : 170 Volts produser Jan Djuhana, label Sony Music Indonesia
* 2005 : Time to Rock produser Jan Djuhana, label Sony Music Indonesia
 Kompilasi



BOOMERANG

Dengan diperkuat Roy Jeconiah (vokal), John Paul Ivan (gitar), Hubert Henry (bas), Petrus Augusti (dram), grup rock asal Surabaya yang bernama Lost Angels ini mencoba uji nyali mengikuti Festival Rock se-Indonesia VI (1993). Lumayan, mereka masuk 10 besar finalis, diurutan ke-6. Sebagai hadiah, lagunya berjudul No More ikutan nangkring di album kompilasi 10 Finalis Festival Rock se-Indonesia VII.

Sejak itu, Lost Angels mulai masuk jajaran grup rock yang namanya mulai diperhitungkan di Surabaya dan sekitarnya. Bahkan Roy dkk sempat mendapat kehormatan sebagai band pembuka Gong 2000, ketika grup musik yang dikomandoi Ian Antono menggelar tur di Sulawesi Selatan. Di luar itu, satu hal yang tetap menjadi obsesi Lost Angels, yakni masuk dapur rekaman. "Itu obsesi kita," kenang Roy, yang mengaku beberapa harus menemui Log Zhelebour menawarkan master album rekaman.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, pada tahun 1994, mereka tanda-tangani kontrak dengan Log Zhelebour untuk rekaman album, sekaligus diputuskan Lost Angels berganti nama jadi Boomerang. Nama Bomerang itu sendiri diambil dari salah satu lagu yang ada di album perdana mereka. Sayangnya, hampir dalam waktu bersamaan, Petrus Augusti mundur, yang kemudian posisinya digantikan Farid Martin. Apa yang diraih Boomerang saat ini tidak lepas dari keberadaan Log Zhelebour sebagai produsernya. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Log di sini punya andil tidak kecil dalam mengangkat nama besar Boomerang sebagai salah satu grup rock papan atas. Selain bertindak sebagai produser, Log juga menangani urusun showbiz-nya.

Di tengah persiapan untuk promosi rilis album X'Travaganza (2000), Log sempat bikin 7 video klip yang digarap sebelum album tersebut edar. Tapi sayang, tak lama setelah album X'Travaganza dirilis, dan di saat sedang gencar-gencarnya mereka melakukan promosi, Boomerang mengambil keputusan dengan menyatakan mundur dari manajemen Log Zhelebour. Bukan cuma itu, bersamaan dengan dirilisnya album Terapi Visi (2003), mereka memutuskan untuk keluar dari dari Logiss Records, dan ganti bernaung di Sony Music – Indonesia.

Dibawah manajemen Log, grup musik yang sempat jadi band pembuka Megadeth saat manggung di Medan ini telah merilis 7 album, masing-masing; Boomerang (1994), Kontaminasi Otak (1995), Disharmoni (1996), Segitiga (1998), Best Ballads of Boomerang & Hard 'N Heavy (1999), dan X'Travaganza (2000)



JAMRUD

Sepanjang 30 tahun perjalanan bisnis industri rekaman, belum pernah sebuah album rock yang omzet penjualannya mencapai 2 juta kaset, dalam setahun. Dan rekor ini telah dipecahkan oleh Jamrud lewat albumnya yang bertitel Ningrat (2001). Tak heran bila lewat album ini Jamrud memborong penghargaan sebagai Grup Rock Terbaik, Penyanyi Terbaik, Lagu Rock Terbaik dan Album Rock Terbaik di ajang AMI – Sharp 2001.

Tak berlebihan bila Log Zhelebour sebagai produser bilang bahwa apa yang telah dicapai Jamrud – grup rock asal Cimahi, Jawa Barat – yang kini diperkuat Azis MS (gitar), Ricky Teddy (bas), Herman (dram), dan Krisyanto (vokal) ini merupakan prestasi fantastik dalam blantika musik tanah air.

Pertengahan ’96, mereka bertemu dengan Log Zhelebour, menawarkan master album. Dan, produser Logiss Records ini tertarik dengan musik ala Jam Rock, dan bersedia mengedarkan album tersebut. Termasuk kesepakatan berubah nama Jam Rock jadi Jamrud, guna hindari sengketa soal nama dengan personel yang pernah gabung di Jam Rock. “Secara logika saya dan teman-teman dapat menerima alasan itu, dan itu kita sepakat dari Jam Rock berubah menjadi Jamrud,” tutur Azis menceritakan.

Akhir Desember 1996, dengan nama baru yaitu Jamrud, Azis dkk merilis debut album bertitel Nekad, terjual 200 ribu keping kaset. Disusul album berikutnya Putri (1997), terjual 300 ribu kaset. Kemudian album ketiga, Terima Kasih (1999) laku 900 ribu kaset. Sekaligus album ini menempatkan posisi Jamrud sebagai grup rock dan album rock terbaik di Anugerah Musik Indonesia 1999.

Menjelang persiapan album keempat, Ningrat, Jamrud dilanda musibah dengan kehilangan dua personelnya, Fitrah dan Shandy, meninggal dunia akibat pengaruh ketergantungan narkoba. Berikutnya posisi Shandy digantikan oleh Herman.

Lewat album Ningrat (2001), Jamrud kembali mencetak sukses besar dengan angka penjualan yang sangat fantasik 2 juta keping kaset. Album ini termasuk album rock terlaris sepanjang sejarah rock Indonesia. Lewat album ini pula, dinobatkan sebagai album rock terlaris versi AMI-Sharp 2001. Yang kemudian disusul oleh penghargaan dari Gen-B Extra Joss Awards 2002 sebagai biang musik tahun 2002. Dengan seabreg prestasi yang diraih, tak heran bila kemudian menempatkan Jamrud sebagai salah satu grup band termahal.

Sebagai bonus atas prestasinya ini, Log kemudian mengajak mereka rekaman album ke-5 di Studio 301, Sydney – Australia, dan menghasilkan album bertajuk Sydney.09.01.02 (2002), yang kemudian dilanjutkan dengan menggelar pertunjukan keliling bertajuk Djarum Super Tour 50 Kota Indonesia. Di tengah kesibukan tour show, mereka sempat mengeluarkan album All The Best Show Hits – Jamrud yang menampilkan single hits berjudul Mengejar Nirwana (2004). Tak lama lagi Azis MS dkk sudah siap-siap untuk merilis album ke-6 bertajuk BO 18+



VOODOO

Voodoo awalnya didirikan pada tanggal 12 Juli 1991 di Jakarta oleh Edo Widiz.Pada awalnya Voodoo hanya terdiri dari 3 personil yaitu Edo Widiz pada gitar, Doddy Katamsi pada vokal dan Adman Maliawan pada bass.Kemudian baru Ossa Sungkar bergabung sebagai drummer.Bersama dengan Vokalis Opie, Voodoo menggebrak dengan debut album di tahun 1994 dengan lagu hit "".Setelah itu Voodoo terus mencetak hits-hits seperti "salam untuk dia dari album keduanya.

Setelah itu Voodoo terus membuat album, di album ke V mereka merilis album The Best of Voodoo. Setelah sempat vakum selama beberapa tahun, kini Voodoo kembali dengan vokalis baru dan album baru.Dengan format dan konsep musik yang baru Voodoo siap mengobati kerinduan penggemarnya. Kini Voodoo terdiri dari Edo Widiz (gitar), Suley (vocal), Ossa (drum) dan Atenk (bass).



POWER SLAVES

Biografi :

Personal
Cikal bakal Powerslaves adalah band festival kampus di Semarang yang digawangi Anwar Fatahillah Dan Randy pada tahun 1990. Kemudian masuklah Widi sebagai Drummer dan Heydi Ibrahim sebagai vocalis yang saat itu baru pulang dari negeri Belanda.

Perjalanan berikutnya Powerslaves dengan formasi Anwar Fatahillah, Randy, Heydi Ibrahim, Widi dan Bambang Kolem mencari keyboardist untuk mengikuti festival-festival diantaranya Yamaha Music hingga masuklah Wiwik Sudarno sebagai Keyboardist yang juga merupakan adik dari Widi sang drummer.

Karir
Mulai Rekaman
Pada Tahun 1992 Powerslaves mengikuti Festival Yamaha music quest dan mulai menuai prestasi dengan masuk ke final, dengan lagu Find Our Love again, disisi lain Randy sang gitarist hengkang dan di gantikan Andry Franzzy dari Jogjakarta, sejak saat itu mulai terbuka kesempatan untuk rekaman, hingga memutuskan hijrah ke Jakarta tahun 1993.

Metal Kecil
Setelah hijrah ke Jakarta Bambang Kolem hengkang hingga formasi Powerslaves adalah Anwar Fatahillah (Bas), Heydi Ibrahim (Vocal), Widi (Drum), Wiwik (Keyboard) dan Andry Franzzy (Gitar). Formasi ini yang kemudian masuk ke dapur rekaman hingga rilis album pertama tahun 1994. Album metal kecil dengan hits lagu Impian, dan beberapa lagu yang hingga saat ini menjadi legenda bagi slavers seperti Metal Kecil dan Find Our Love Again.

Metal Kartun
Pada Tahun 1996 Powerslaves merilis album ke-2 Metal kartun yang berisi lagu- lagu antara lain Sisa, Metal Kartun, Untuk Apa, Wayang Wong, Insiden Mie dan lain-lain, namun mulai timbul perpecahan ditandai dengan hengkangnya Wiwik Sudarno pada tahun itu juga disusul Widi. Sebagai pengganti pada posisi drum masuklah Fafa Ahmad.

Kereta Rock N Roll
Pada Tahun 1998 Powerslaves merilis album ke-3, Kereta Rock n roll, dengan beberapa lagu hit antara kereta rock n roll, ke rock an, dll. Formasi pada album ini Anwar Fatahillah (Bass), Heydi Ibrahim ( Vocal ), Andry Franzzy (Gitar), Fafa Ahmad (Drum) dan Edot (additional Keyboard).

Powerslaves 2001
Setelah album ke 3 Powerslaves menjalani tour panjang, diantaranya Pesta Damai Rame-Rame bersama Slank Dan Rif, hingga pada tahun 2001 di rilis album ke-4 Powerslaves dengan lagu antara lain Matahari, Father n son, Jika kau Mengerti, dan lain-lain. pada album ini formasi Powerslaves adalah Anwar Fatahillah (bass), Heydi Ibrahim (Vocal), Andry Franzzy (Gitar) dan Edot (Keyboard), Fafa Ahmad mengundurkan diri dan diisi oleh drummer Additional antara lain Rere dan Agung Yudha.

Gak Bakal Mati
Tahun 2002 dan 2003 rasa lelah dan kejenuhan menjalani tour Panjang serta berbagai permasalahan yang timbul Andry Franzzy Hengkang dari Powerslaves disusul Heydi Ibrahim yang kembali menekuni Seni lukis, Anwar Fatahillah meneruskan bendera Powerslaves dan rilis album ke 5 Gak Bakal mati pd tahun 2004 dgn formasi Njet Flowers (Vocal), Anwar Fatahillah (Bass), DD Crow (Gitar) dan Agung Yudha (Drum), hit nya antara lain Batere, Gak Bakal Mati.

Rentang waktu 2005 sd 2008 selama tour Powerslaves dibantu Acho Jibrani sebagai additonal Gitar yg kemudian menjadi Personil Tetap, hubungan dekat antara Anwar fatahillah dan Heydi Ibrahim dan komunikasi yang terus berjalan akhirnya membuahkan ide membuat album solo Heydi Ibrahim, pertemuan Anwar, Acho Jibrani dan Heydi Ibrahim yangg akhirnya mengembalikan Heydi Ibrahim utk PULANG ke rumah nya POWERSLAVES tahun 2008.

Jangan Kau Mati
Pada tahun 2010 Powerslaves mempersiapkan album ke 6, pada saat itulah terjadi pertemuan antara slavers militan dan personil Powerslaves yang kemudian timbul ide untuk membentuk sebuah management atau badan yg kemudian diberi nama KERETA ROCK N ROLL dan resmi berdiri pada bulan Oktober 2010. Pada tanggal 11 Desember 2010 Powerslaves merilis album ke-6 Jangan Kau Mati, dan pada persiapan acara launching terjadi pertemuan dengan Wiwik Sudarno dan membuatnya PULANG kembali ke Powerslaves. Pada saat ini Formasi Powerslaves: Heydi Ibrahim, Anwar Fatahillah (Bass), Acho Jibrani (Gitar) dan Wiwik Sudarno (Keyboard )

New Single berjudul Indonesia
Pada ultah ke 20 Powerslaves bulan april 2011, Powerslaves merilis single berjudul Indonesia, sebuah lagu yang dipersembahkan untuk Bangsa Indonesia. Lagu yang liriknya doa dan harapan untuk negara ini.



TEASER

Teaser terdiri dari Sadmoyo Mukhtar Cahyadi (Moyo-Gitar), Dwi Lestarianto (Ian-Vokal), Ariem Christiawan (Wawan-Bass), dan Aditya Pratama (Adi-Drum). Berdiri tahun 1992 di Temanggung Jawa Tengah.

Kiprah bermusik Teaser dimulai ketika mengikuti Festival Musik Rock Se jawa Bali tahun 1992. Disitu Teaser merebut juara ke-empat. Tak puas sebagai juara empat, tahun berikutnya Teaser mengikuti festival yang sama dan merebut juara pertama. Kesuksesan terbesar adalah ketika mengikuti Festival Rock se Indonesia versi Log Zhelebour tahun 1996. Selain jadi juara, lagu mereka terpilih sebagai karya terbaik. Dari situ, Teaser mendapat kesempatan rekaman album. Si Bandel album perdana mereka.

Teaser - Si Bandel (1998)

   1. Boss Kecoa
   2. Bunda
   3. Hero
   4. Hilang
   5. Let Fill The Empty Corners Of Love
   6. Revolusi (..Dunia I..)
   7. Revolusi (..Dunia II..)
   8. Si Bandel
   9. Sketsa Kehidupan
  10. Zaman Edan



ANDROMEDHA


Gonta-ganti personil tampaknya sudah menjadi kebiasan bagi band hard rock dari Surabaya ini. Satu-satunya personil yang setia mengawal Andromedha adalah Yoyok, sang dummer yang hingga akhirnya dia bersama Piyu kelak mendirikan PADI.
Dalam formasi pertama, beberapa personil lainnya adalah Heru (Vokal), Lucky (Gitar) serta Yani dan Juki, pada 1989 merilis single 'Prestasi'. Masuk tahun 1990, ada perubahan personil, yakni Pungky Deaz (Vokal), Hendrix Sanada (Bass) dan James (Keyboard) menggantikan posisi Heru, Yani dan Juki. Pada formasi ini mengahasilkan single legendaris 'Lamunan' yang tersohor dan konon pula sempat merajai chart radio di Malaysia yang berdampingan dengan 'Isabella' nya SEARCH. Pada sesion rekaman debut album 'Konser Rock' tahun 1991, posisi James digantikan oleh Deny Ireng. Pada tahun 1992 hingga tahun 1993 posisi gitar ditempati oleh Ipunx dari Power Metal. Sementara Lucky sendiri masuk Power Metal, sehingga semacam tukar personil gitar antara Andromedha dan Power Metal.



SLANK

Slank adalah sebuah grup musik terkenal di Indonesia. Dibentuk oleh Bimbim pada 26 Desember 1983 karena bosan bermain musik menjadi cover band dan punya keinginan yang kuat untuk mencipta lagu sendiri. Cikal bakal lahirnya Slank adalah sebuah grup bernama Cikini Stones Complex (CSC) bentukan Bimo Setiawan Sidharta (Bimbim) pada awal tahun 80-an. Band ini hanya memainkan lagu-lagu Rolling Stones dan tak mau memainkan lagu dari band lain, alhasil mereka akhirnya jenuh dan menjelang akhir tahun 1983 grup ini dibubarkan.


Bimbim meneruskan semangat bermusik mereka dengan kedua saudaranya Denny dan Erwan membentuk Red Evil yang kemudian berganti nama jadi Slank, sebuah nama yang diambil begitu saja dari cemoohan orang yang sering menyebut mereka cowok selengean dengan personel tambahan Bongky (gitar) dan Kiki (gitar). Kediaman Bimbim di Jl. Potlot 14 jadi markas besar mereka.

Mereka sempat tampil di beberapa pentas dengan membawakan lagu-lagu sendiri sebelum Erwan memutuskan mundur karena merasa tidak punya harapan di Slank. Dengan perjuangan panjang terbentuklah formasi ke-13, Bimbim, Kaka, Bongky, Pay dan Indra, Slank baru solid.

Dengan formasi Bimbim (Drum), Bongky (Bass), Pay (Gitar), Kaka (Vokal) dan Indra (Keyboard) mereka mulai membuat demo untuk ditawarkan ke perusahaan rekaman.

Setelah berulang kali ditolak, akhirnya tahun 1990 demonya diterima dan mulai rekaman debut album Suit-Suit... He He He (Gadis Sexy). Album yang menampilkan hit Memang dan Maafkan itu meledak dipasaran sehingga mereka pun diganjar BASF Award untuk kategori pendatang baru terbaik. Album kedua mereka, Kampungan pun meraih sukses yang sama.

NARKOBA

Keterlibatan para personelnya dengan narkoba sempat melahirkan keretakan di tubuh band yang bermarkas di jalan Potlot ini. Pada saat menggarap album keenam (Lagi Sedih), Bimbim selaku leader akhirnya memutuskan untuk memecat Bongky, Pay dan Indra. Kaka dan Bimbim tetap menggarap album ke-6 dengan bantuan additional player.

Sebagai gantinya mereka merekrut Ivanka (Bass), Mohamad Ridho Hafiedz (Ridho) dan Abdee Negara (Abdee). Formasi ini bertahan hingga saat ini dan mereka terus melahirkan karya-karya yang menegaskan eksistensi mereka di dunia musik Indonesia.

Bimo Setiawan Almachzumi
Nick Name : Bimbim
D.O.B : Jakarta, 25 December
Believe : Islam
Height/Weight : 173 cm / 52 kgs
Hobby : Soccer
Influence : Van Hallen, Rolling Stones, Queen
Position : Drums / Percussions / Guitar
Musical Background :
Self learning to drumming at the age of 13. First gigs in Junior High with Cikini Stones Complex. Former member of SLANK.

Akhadi Wira Satriaji
Nick Name : Kaka
D.O.B : Jakarta, 10 March
Believe : Islam
Height/Weight : 171 cm / 60 kgs
Hobby : Soccer
Influence : Bob Marley, David Coverdale
Position : Guitars / Vocal Cord
Musical Background :
Learnt to sing at the age 9, Forming a band with cousins and friends in Junior High. Self learn to sing by listening his favourites musician's recorded tapes, Vocalist of LOVINA band, borrowed as vocalist

Ivan Kurniawan Arifin
Nick Name : Ivanka
D.O.B : Jakarta, 9 Desember
Believe : Islam
Height/Weight : 170 cm / 55 kgs
Hobby : Musics
Influence : Rolling Stones, Beatles
Position : Bass / Guitars
Musical Background :
Began to learn guitar at the age of 14 . Finalist at West Java Rock Festival. Foemer member of House Of The Rising Sun Band, Bass player for Imanez' Otto Jam, Supporting musician for SLANK's 6th local album.

Mohammad Ridwan Hafiedz
Nick Name : Ridho
D.O.B : Ambon, 3 September
Believe : Islam
Height/Weight : 173 cm / 50 kgs
Hobby : Soccer
Influence : Blues Saraceno, Nick Nolan, Beatles, Jimmy Hendrix
Position : Guitars
Musical Background :
Began to learn music in Samarinda at the age 12. Former member of Cat Power Band. Took a musical course with Didi AGP and Bintang Indiarto in high school. Former member of Last Few Minutes (LFM) Band. Took a guitar course at Musician Institute Hollywood,LA. Supporting musician for Vina Panduwinata, Nita Tilana, Nugie, Vony Sumlang. Joining SLANK in the recording album "TUJUH".

Abdee Negara
Nick Name : Abdee
D.O.B : Donggala, 28 June
Believe : Islam
Height/Weight : 170 cm / 50 kgs
Hobby : Motor Cross
Influence : Keith Richard, Jimmy Hendrix
Position : Guitars
Musical Background :
Took a guitar course at ILW Farabi in 1988. Supporting musician for Gideon Tengker, Ermy Kulit, Michael "Sket" Meyer, Eki Lamoh. Former member of Interview Band with Hengky Supit, DOR Band with Wawan and Michael Meyer, ENEMES Band with Sandy and Iram "U" Camp, Makhatana Band with Dino and Yoyo "Bayou", KRS with Cendy Luntungan, Harry Anggoman. ARJACO with Arthur Kaunang and James F. Sundah.

Joining SLANK in the recording album "TUJUH".

PENGGEMAR

Slank adalah grup cinta damai dan pada kenyataanya Slank tidak saja berhasil merebut hati penggemar, tapi Slank juga telah berhasil membangkitkan semangat dan solidaritas dari sebuah generasi untuk punya sikap. Dan Slank memiliki kelompok penggemar yang fanatik dan kreatif, yang dikenal sebagai Slankers.

SLANK FANS CLUB

Slank Fan Club (SFC) adalah club resmi yang dibentuk oleh manajemen Slank untuk menampung para penggemar fanatik Slank.

BULETIN SLANK

Untuk menyampaikan informasi kepada para Slanker, Slank dan manajemennya memutuskan untuk membuat sebuah newsletter yang kemudian disebut dengan nama Buletin Slank. Buletin ini berisi jadual, kisah-kisah pendek perjalanan tur panggung slank dan sebagainya. Nama buletin sendiri dipakai sebagai simbol agar para slanker melingkari (buletin) jadwal kegiatan slank di kalender kegiatan mereka masing-masing.

Buletin Slank inilah yang kemudian berkembang menjadi Koran Slank.

KORAN SLANK

Koran Slank diterbitkan pertama kali pada 10 Maret 2002.

DISKOGRAFI

1. 1990 - Suit-Suit....Hehehe (Gadis Sexy)
2. 1991 - Kampungan
3. 1993 - Piss
4. 1995 - Generasi Biru
5. 1996 - Minoritas
6. 1996 - Lagi Sedih
7. 1997 - Tujuh
8. 1998 - Mata Hati Reformasi
9. 1999 - 999+09
10. 2001 - Virus
11. 2003 - Satu Satu
12. 2003 - Bajakan!
13. 2004 - Road to Peace
14. 2005 - PLUR
15. 2006 - Slankissme
16. 2007 - Slow But Sure
17. 2007 - Original Soundtrack "Get Married"
18. 2008 - Slank - The Big Hip
19. 2008 - Anthem For The Broken Hearted
20. 2009 - Original Soundtrack Generasi Biru


Personil : Bim-Bim � Kaka � Ridho � Ivanka � Abdee
Mantan Personil : Bongky � Pay � Indra � Reynold
Album Studio : Suit... Suit... He... He... (Gadis Sexy) - Kampungan - Piss! - Generasi Biru - Minoritas - Lagi Sedih - Tujuh - Mata Hati Reformasi - 999 - 09 - Virus - Satu Satu - PLUR - Slankkissme - Slow But Sure
Album Lain : Konser Piss 30 kota - Virus Roadshow - Bajakan - Road to Peace - Ost. Get Married



GEGER

Geger adalah band rock asal Jakarta, Indonesia yang beranggotakan wanita semua yaitu Wiwik (kibor), Elly (vokal), Cynthia (bass), Dewi (drum) dan Taty Hera (gitar) yang mencoba mengangkat citra band rock perempuan dalam dunia musik Indonesia. Penampilan mereka di ber- bagai panggung kafe terbilang lumayan, meski harus jujur diakui mereka juga punya kelemahan antara lain soal stamina di atas panggung yang selama ini sayangnya selalu terasa kelihatan kehabisan bensin, justru pada session kedua.

Melihat penampilan mereka, kita seperti melihat rock perempuan tahun 70-an yang terkenal dengan dandanan mini, sementara sound musik dan stage act mengingatkan kita sedikit pada kelompok Spice Girls. Sensual. Cuma jika Spice Girls hanya sebagai vokalis, Geger justru membuat komposisi lagu sekaligus instrumentalis dan vokalis. Dus, sebenarnya Geger memiliki kelebihan dalam hal musikalitas. Namun yang menjadi unik adalah, dari stage act dan kostum Geger terlihat Barat ‘abis’, namun dari sisi lagu mereka tetaplah menonjolkan lagu-lagu teks Indonesia. Dengarkan karyanya lewat album Sulung.

Awal dibangunnya kelompok full cewek ini sendiri dilatarbelakangi dari seringnya mereka bertemu dalam sejumlah event band nasional. Dan kebetulan Wiwik yang telah malang melintang dalam dunia musik sejak tahun 1986 mendapat tanggapan dari rekan-rekannya untuk mendirikan grup band wanita. Jadi mulailah Wiwik menghubungi kenalan lamanya untuk merealisasikan proyek ‘sensasional’ ini. Disebut sensasional, karena memang terhitung langka band rock wanita pada waktu itu.

Geger dibangun di Jakarta pada 23 Mei 1996 awalnya hanya sebagai home band dari beberapa café. Mereka membawakan lagu-lagu rock bernuansa keras milik Led Zeppelin, Deep Purple hingga Metallica. Sebagai pemrakarsa grup ini, Wiwik juga mengkonsep kostum yang lumayan minim dan sexy, ini dilakukan supaya tidak menyulitkan stage act mereka saat mulai naik pentas. Geger sendiri bisa dibilang kenyang dengan jadwal manggung. Tak hanya di Jakarta, namun juga merambah sampai Cilacap, Kendal, Pati, Cirebon, Purwokerto, Tasikmalaya, Ciamis, Bandung, Solo, Surabaya, Lampung, Makassar hingga Samarinda.

Musisi ini tetap cuek berkarya dengan musik pop rock. Walau mereka mendapat ‘saingan‘ terutama dari band-band rock pria, namun karya lagunya banyak yang kontroversial, urakan dan berbau kritik sosial. Dua tahun rekamannya tersimpan di file musiknya Ian Antono, kini fans rock dapat menikmatinya. Juga di panggung musik cadas. Namun sayang, band ini tidak bertahan lama dan sekitar awal 2000an band ini sudah tidak muncul lagi di blantika musik Indonesia.



U CAMP

Tahun 90-an di era musik Rock kenceng berkibar, masih inget banget waktu itu aku masih duduk di bangku SMA tepatnya tahun 1992 muncul satu band lokal dengan nama U’Camp asal Bandung : Iram (gitar), Sandy (drum), Rudi (vokal), Erry (bass), Ovy (gitar)
dengan Titel Albumnya Bayangan dan dengan Hit yang sama dengan titel album “Bayangan” Produksi Metrotama, hampir tiap hari lagu tersebut diputar di radio-radio dan televisi. Fenomenal memang lagu dari band tempaan di wadah Bengkel Gong binaan Ian Antono ini yaitu lagu Bayangan yang menunjukkan skil Two Handed Tapping yang begitu menonjol di lagu ini.

Kabar yang aku denger waktu itu dua gitaris yaitu Iram & Ovy (yang masih kakak beradik) ini pernah menempuh sekolah musik di luar negeri, tak heran kalau permainan & komposisi lagu dalam album ini lumayan matang dan sangat harmonis. Ingat betul waktu itu band ini di kalangan teman-teman masih dikategorikan Pop Rock dikarenakan era 90-an lagu-lagu Rock yang ada jarang sekali mengusung tema Cinta yang manis-manis apalagi gempuran lagu-lagu Rock khususnya Heavy Metal. Tapi untuk acara festival-festival band yang digelar pada masa itu lagu Bayanga ini menjadi lagu Wajib yang harus dibawakan bagi peserta festival Musik Rock selain lagu-lagu dari Good Bless, Gong 2000 dan lagu dari Band Rock lokal lainnya. Inilah masa-masa kejayaan musik Rock Indonesia di Indonesia.

Kalau mengingat masa itu sempet aku cekikikan sendiri, bagaimana tidak… dengan sangat terbatasnya instrumen yang aku punya yaitu hanya gitar kopong/akustik aku paksa memainkan lagu itu, anda yang gitaris terutama, pasti bisa ngebayangin bagaimana bunyinya bila dengan gitar akustik memainkan lagu Bayangan yang notabene menggunakan skill Two Handed Tapping…hehehehe….. tapi aku gk nyerah, walaupun suaranya gk jelas yang penting notasinya ketemu dan aku mengimajinasikannya sedang memainkan lagu tersebut dengan gitar elektrik. Nah..pas sudah mendapatkan gitar elektrik pinjaman dari teman-teman dengan merek Price barulah aku bisa ngerasain gimana jadi seorang gitaris U’Camp..hahahahaha…….

Selain lagu Bayangan ada satu lagu yang lumayan menaikkan semangat….. dengan titel U’Camp, lagu dengan judul U’Camp ini konon menjadi Theme untuk anak-anak Rock Bandung, isi lirik dari lagu itu memang sedikit mengajak penikmat lagu U’Camp untuk semangat.

Inilah Album fenomenal U’Camp tersebut :

Produksi : Metrotama

Tahun : 1992

1.Bayangan
2. Bukalah Hatimu
3. Bandel
4. We Believe in you
5. Aku Bukan Kamu
6. Untukmu
7. Kutantang Badai
8. Anak Metal
9. Lokeloll
10. U’Camp

Suksenya album Bayangan memacu anggota band ini untuk merilis album berikutnya yaitu album Vol.2, kalo aku ingat ini album kurang sesukses album sebelumnya, menurutku lagi dikarenakan secara materi album ini belum bisa menandingi album terdahulunya, tak putus asa U’Camp terus menelorkan album-album berikutnya seperti : Masih Ada, Melangkah, Aku Cinta.

Bersamaan dengan keluarnya album-album anyar tersebut kondisi persaingan grup-grup musik juga mulai kompetitif dengan munculnya band-band baru yang menawarkan warna musik lain yang akhirnya mengakibatkan kevakuman terhadap grup Rock Indonesia tak terkecuali U’Camp

Puncaknya pada tahun 1997 terjadi perpecahan di tubuh U’Camp yang kabarnya dikarenakan perbedaan visi antar personel band dengan keluarnya Sandy-Drumer (sekarang gabung dengan PAS Band) dan Ovy-Gitar (sekarang gabung dengan /RIF).

Setelah sekian lama Vakum barulah di tahun 2008 Iram sang gitaris berusaha menghidupkan kembali & nama U’Camp terdengar lagi dengan mengeluarkan album baru “Apa Kabar” dibawah lebel nataSWARA tepatnya hari Rabu 25 Juni 2008 diadakan Launcing bertempat di  The ROCK Cafe (Hotel Grand Flora) – Kemang. Dengan digawangi personel baru :  Ozy-Bass, Arie-Drum, Dimi-Gitar, dan Dhino-Vocal dan yang pasti Iram-Gitar, Album ini membuktikan kecintaan mereka pada musik Rock.

   1. Apa kabar
   2. Selingan Cinta
   3. Menanti Jawaban
   4. Gila Tapi waras
   5. Preman
   6. Ku Sudah Bosan
   7. Semesta Alam
   8. Relakan
   9. Izinkan Aku
  10. Bayangan (Repakage)

Di album ini U’Camp lebih banyak mengambil tema yang mengisahkan tentang kejadian alam plus satu hit lawas mereka yang berjudul “Bayangan”.Mengenai alasan mengapa masih tetap menyisipkan lagu Bayangan di album terbaru? Herry, perwakilan dari pihak NataSWARA yang memproduksi sekaligus mendistribusikan album baru U’Camp, menjelaskan hadirnya lagu lawas ini karena masih tingginya keinginan penggemar untuk mendengarkannya kembali.Sementara Iram menampik anggapan masih adanya lagu Bayangan karena U’Camp formasi baru ini masih kurang percaya diri. ”Saya pikir bukan karena tidak percaya diri,” katanya. ”Tetapi kita ingin mengakomodasikan keinginan para penggemar kami. Untuk itulah kami juga menghadirkannya dengan aransemen yang lebih segar dan baru.”Ovy, mantan personel U’Camp yang turut hadir pada peluncuran album, hanya berharap grup band yang telah membesarkannya ini bisa kembali bersaing dengan grup band sekarang. ”Mudah-mudahan saja masih ada yang tertarik dengan U’Camp. Terus terang saya sudah menunggu sejak lama momentum ini,” katanya.



PAS BAND

Pas Band adalah kelompok musik yang mencampurkan warna musik rock, hip hop, dan punk. Pas Band digawangi oleh Yukie (vokal), Trisno (bass), Bengbeng (gitar), Sandy (drum).

Perjalanan karier

Awalnya, band yang lahir di kampus Unpad ini mulai meniti karier dari panggung-panggung underground sejak 1989. Pas Band berdiri secara resmi pada tahun 1990. Pada tahun 1993 grup yang terdiri dari Bengbeng (gitar), Trisno (Bass), Yukie (vokal) dan Richard Muttler (drum) ini merilis album EP berbendera indie label dengan debut, Four Through The Sap.

Mulai album kedua In (No) Sensation (1995) hingga sekarang, mereka digandeng oleh Aquarius Musikindo. Label ini membebaskan mereka untuk berkarya. Meskipun tidak bisa merangkul semua orang lewat musiknya yang tidak biasa, namun mereka mulai membangun basis massa yang setia dengan jalur yang mereka pilih.

Album kedua ini diikuti oleh album-album mereka berikutnya, yaitu indieVduality (1997), Psycho I.D. (1998). Pada album keempat, Richard mengundurkan diri dan posisinya digantikan oleh Sandy (ex-U'Camp)[1]. Dengan formasi tanpa Richard, mereka merilis album kelima yang berjudul Ketika (2001), namun Sandy belum dapat bermain pada rekaman album ini karena masih terikat kontrak dengan label lain. Sandy yang sekarang ini menjadi penyiar di I-Radio 89.6 FM bergabung di album keenam PAS 2.0 (2003), dan album ketujuh Stairway to Seventh (2004). Dua tahun kemudian, Pas Band meluncurkan album the best berisi 3 lagu barunya "Permata Yang Hilang", "Romeo & Juliet", dan "Gladiator" dan 9 lagu hits lamanya. Dua tahun seakan menjadi waktu yang tepat untuk mengumpulkan materi untuk album terbarunya, dan akhirnya Pas Band mengumumkan akan menelurkan album barunya pada 20 Maret 2008, berjudul Romantic,Lies & Bleeding. Hits terbarunya berjudul "Aku" yang bercerita tentang pengakuan seorang lelaki bajingan, telah malang melintang diputar di radio-radio dan Internet.

    * Four Through The Sap (1993)
    * In (No) Sensation (1995)
    * indieVduality (1997)
    * Psycho I.D (1998)
    * Ketika (2001)
    * PAS 2.0 (2003)
    * Stairway to Seventh (2004)
    * The BeAst of PAS (2006)
    * Romantic...Lies...and Bleeding (2008)




/RIF

Awalnya band ini bernama Badai yang berdiri tahun 1992 dengan personel Andy (vokal), Ade (drum), Iwan (bass), Baron (gitar) dan Dwi (kibord). Kemudian berganti menjadi R.I.F (Rythm in Freedom) di tahun 1993 dan 1995 mereka resmi memakai nama /rif. Anak-anak Bandung ini kemudian mencoba peruntungan dengan membuat single rekaman sendiri. Tak dinyana mereka dilirik perusahaan rekaman besar dan album perdana mereka 'Radja' yang rilis Oktober 1997 laris manis. Kendati kerap berganti personel, hingga kini /rif tetap berdiri tegak.

Personel:
Nama: Restu Triady (Andy)
Ttl: Bandung, 12 Oktober 1968
Posisi: vokal

Nama: Magi Trisandi (Magi)
Ttl: Bandung, 9 September 1973
Posisi: drum

Nama: Ardija Hermawan (Iwan)
Ttl: Bandung, 6 Desember 1967
Posisi: bass

Nama: Adjie Pamungkas (Jikun)
Ttl: Bandung, 12 September 1968
Posisi: gitar

Nama: Noviar Rahmansyah (Ovy)
Ttl: Bandung, 12 November 1966
Posisi: gitar


ROTOR

Rotor adalah sebuah grup musik thrash metal asal Jakarta. Dibentuk pada tahun 1991, yang digawangi oleh Irvan Sembiring. Band ini makin meroket namanya setelah sukses menjadi supporting act konser Metallica selama dua hari berturut-turut di stadion Lebak Bulus, Jakarta pada tahun 1993.
Walaupun dibentuk di Jakarta, panggung debut Rotor adalah di Taman Topi Bogor. Dalam pergelaran rock yang diadakan oleh sebuah radio swasta Bogor, kuartet thrasher ini tampil bersama sejawat metalnya dari Jakarta, diantaranya Atomic dan Alien Scream. Kala itu mereka masih mengusung lagu milik band asal Brazil yaitu Sepultura.
Selama delapan tahun karier bermusik, Rotor menelorkan empat album di tiga major label berbeda, yaitu AIRO, Hemagita dan Warner Music Indonesia. Sebelum bubar secara resmi, Judapran sang pemain bas Rotor tewas karena over dosis karena obat bius. Terakhir, mantan vokalis mereka Jodie (vokalis Getah) yang kharismatik juga meninggal dunia. Anggota tersisa kini hanya sang pendiri sekaligus gitaris Rotor, M. Irvan Sembiring, yang telah menggantungkan gitar untuk selamanya dan menekuni lembaran hidupnya yang baru sebagai seorang pendakwah.
Diskografi
  • Behind the 8th Ball (1992)
  • Eleven Keys (1995)
  • New Blood (1996)
  • Menang (1997)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar